Waktunya Kepala Sekolah Naik Kelas! YPWI Pusat Dorong Kepemimpinan Berbasis Kompetensi

Kepala Sekolah adalah Kunci. Penelitian dunia selalu menyebut hal yang sama: Kualitas sekolah tidak akan pernah melebihi kualitas kepala sekolahnya. Guru yang hebat butuh pemimpin yang hebat

Oleh : Prof. Dr. Hj. Siti Patimah, S.Ag,M.Pd., MT (Guru Besar UIN Sultan Maulana Hassanudin Banten)

 

Dulu, menjadi kepala sekolah cukup dengan bisa mengelola BOS, tanda tangan rapor, dan menjaga sekolah tetap aman. Hari ini, tidak lagi. Di tengah gempuran kasus perundungan yang viral di media sosial, rendahnya skor PISA dan literasi numerasi, guru yang burnout karena administrasi, serta tuntutan Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), satu fakta menganga: banyak sekolah punya gedung bagus, tapi miskin kepemimpinan pembelajaran. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Pelatihan Kepala Sekolah SD, SMP, SMA Berbasis Kompetensi ini tidak bisa ditunda lagi.

Pelatihan ini bukan sekedar sertifikasi, tapi transformasi peran dari Kepala Sekolah sebagai Manajer Administrasi menjadi Pemimpin Pembelajaran (Instructional Leader). Pelatihan ini dirancang berbasis 4 pilar kompetensi wajib kepala sekolah sesuai Permendikbudristek No. 40 Tahun 2021, namun dikontekstualisasikan dengan masalah nyata.

1.TEMA KEBIJAKAN: Membaca Arah Angin, Bukan Sekadar Menjalankan Juknis. Kepala sekolah hari ini dibanjiri kebijakan: Transisi Kurikulum Merdeka menuju Kurikulum Nasional, Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP), Platform Merdeka Mengajar (PMM), dan kebijakan terbaru tentang Deep Learning dan Koding-AI di sekolah.Masalahnya, banyak kepala sekolah baru sampai di level “mengumpulkan PMM”, bukan “memaknai kebijakan”.

Pada tema ini, peserta tidak hanya diajak menghafal regulasi, tetapi membedah: Bagaimana menerjemahkan kebijakan PPKSP menjadi budaya sekolah anti-kekerasan yang nyata, bukan sekadar membuat SK Tim. Pencegahan? Bagaimana menyikapi kebijakan AI dan gawai di sekolah? Melarang total atau mengelola jadi alat belajar? Bagaimana kebijakan Dana BOSP yang akuntabel di tengah tuntutan transparansi publik? Kepala sekolah harus menjadi penerjemah kebijakan, bukan tukang fotokopi kebijakan.

2.TEMA KEPEMIMPINAN: Dari Bos Menjadi Coach. Data Kemendikbud menunjukkan, salah satu penyebab guru tidak betah dan keluar dari profesi adalah gaya kepemimpinan kepala sekolah yang feodal dan instruktif.

Di era Guru Penggerak, kepala sekolah tidak bisa lagi memimpin dengan perintah. Tema Kepemimpinan ini fokus pada: Kepemimpinan Transformasional dan Coaching: Bagaimana melakukan percakapan coaching 1-on-1 dengan guru yang kinerjanya menurun, bukan langsung memberi SP.

Kepemimpinan Digital: Kepala sekolah SD harus paham data Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), Rapor Pendidikan, dan cara membaca Rapor Pendidikan untuk intervensi, bukan untuk dipajang di dinding. Kepemimpinan Krisis: Apa yang harus dilakukan kepala sekolah dalam 24 jam pertama saat kasus bullying viral, kasus pelecehan, atau tawuran antar siswa SMA terjadi?

3.TEMA PENGEMBANGAN PROGRAM SEKOLAH: Dari Program di Atas Kertas Menjadi Dampak di Kelas. Hampir semua sekolah punya RKAS dan RKT. Tapi berapa yang benar-benar berbasis data Rapor Pendidikan? Berapa program yang benar-benar menjawab masalah: literasi siswa SD kelas 3 yang masih belum lancar membaca, atau siswa SMP yang jago TikTok tapi tidak bisa berpikir kritis?

Tema ini adalah yang paling praktis. Peserta akan dibimbing untuk: Menyusun program berbasis data: Mengubah warna merah di Rapor Pendidikan (literasi, karakter, iklim keamanan) menjadi program intervensi yang terukur. Mendesain program sekolah yang berpihak pada murid: Seperti Sekolah Ramah, Program Roots Anti-Perundungan, dan penguatan literasi-numerasi tanpa menambah jam les yang membebani siswa. Mengelola kemitraan: Bagaimana melibatkan orang tua dan komite bukan hanya saat rapat kenaikan kelas, tetapi sebagai partner pembelajaran.

4. TEMA SUPERVISI PENDIDIKAN: Mengakhiri Drama Supervisi yang Menakutkan. Inilah luka lama dunia pendidikan. Bagi sebagian guru, supervisi = datangnya kepala sekolah membawa buku nilai, duduk di belakang, dan mencari kesalahan. Akibatnya, guru tampil bagus hanya saat disupervisi, setelah itu kembali seperti semula. Padahal, esensi supervisi di Kurikulum Merdeka adalah pendampingan, bukan inspeksi.

Pada tema ini, paradigma supervisi akan dibongkar total: Dari Supervisi Administratif (cek RPP tebal) menjadi Supervisi Klinis dan Akademik: Fokus pada proses belajar di kelas, bukan kelengkapan dokumen. Teknik Observasi Kelas yang Humanis: Menggunakan instrumen 3 dimensi (melihat, mendengar, merasakan), dan memberikan umpan balik dengan teknik coaching, bukan menghakimi.

Supervisi Manajerial: Bagaimana kepala sekolah SMP dan SMA melakukan supervisi terhadap layanan BK, layanan perpustakaan, dan pengelolaan anggaran secara kolaboratif.

Penutup: Kepala Sekolah adalah Kunci. Penelitian dunia selalu menyebut hal yang sama: Kualitas sekolah tidak akan pernah melebihi kualitas kepala sekolahnya. Guru yang hebat butuh pemimpin yang hebat. Jika kita ingin menyelesaikan masalah perundungan, meningkatkan literasi, dan menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap teknologi tetapi juga berkarakter, maka investasinya adalah pada pelatihan kepala sekolah yang berbasis kompetensi, relevan, dan membumi. Pelatihan ini bukan untuk menciptakan kepala sekolah yang pandai membuat laporan. Tapi untuk melahirkan kepala sekolah SD, SMP, SMA yang mampu membuat setiap anak merasa aman, setiap guru merasa bertumbuh, dan setiap kelas menjadi tempat belajar yang memerdekakan. Waktunya kepala sekolah naik kelas.

Wassalam. 

 

Catatan Redaksi : Materi diatas merupakan intisari dari Prof Patimah sampaikan selama 4 hari dihadapan peserta pelatihan Kepala Sekolah (TK, SD,SMP <SMA Sederajat). Diselenggarakan oleh YPWI Pusat Makassar bekerjasama dengan  Lembaga Pelatihan Kerja  Manajemen Pendidkan Indonesia (LPK-MPI). Berlangsung mulai hari ini 27 -30 Oktober 2026 di Aerotel Smile Somba Opu Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *