Oleh : Iskandar Kato (Ketua Bidang IV (Pendidkan) DPP Wahdah Islamiyah
Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia mengenang peran santri dalam menjaga kemerdekaan sekaligus meneguhkan peran mereka hari ini. Tanggal itu merujuk pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH. Hasyim Asy’ari pada 1945, dan ditetapkan sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Pada 2026, Kementerian Agama Republik Indonesia mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini mengajak kita memandang santri bukan hanya sebagai penjaga warisan masa lalu, tetapi sebagai penentu arah masa depan bangsa.
Makna Tema: Dua Pesan dalam Satu Kalimat
Santri Menguatkan Negeri menghadirkan santri sebagai bagian dari solusi atas berbagai tantangan bangsa. Kekuatan mereka bertumpu pada kedalaman spiritual, keluasan ilmu, serta karakter yang produktif dan adaptif. Santri tidak berdiri di pinggir persoalan, melainkan hadir di tengahnya.
Menuju Indonesia Emas menjadi orientasi bersama dalam menyiapkan generasi unggul yang akan menentukan masa depan Indonesia pada 2045. Seratus tahun setelah Resolusi Jihad 1945, santri hari ini adalah generasi yang akan memegang kemudi.
Empat Modal Utama Santri 2026
Untuk menguatkan negeri, santri disiapkan dengan empat modal yang saling menopang.
Keempatnya bekerja sebagai satu kesatuan. Ilmu tanpa karakter mudah kehilangan arah, sedangkan tradisi tanpa keberanian berinovasi berisiko tertinggal zaman.
Santri sebagai Bagian dari Solusi
Menguatkan negeri berarti hadir di ruang-ruang tempat bangsa ini menghadapi tantangan: pendidikan, ekonomi umat, kehidupan beragama yang rukun, hingga perubahan teknologi yang bergerak cepat. Pesantren sejak lama menjadi pusat pembentukan akhlak dan pengabdian kepada masyarakat. Kini ruang pengabdian itu meluas.
Santri yang menguasai literasi digital dapat menjadikan teknologi sebagai sarana dakwah, pendidikan, dan penguatan ekonomi di lingkungannya. Santri yang berilmu luas dapat tampil sebagai profesional, wirausahawan, pendidik, maupun pemimpin publik tanpa meninggalkan akar spiritualnya. Karena itu, produktif dan adaptif bukan sekadar slogan, tetapi cara santri menjawab kebutuhan zaman.
Penutup
Hari Santri 2026 mengingatkan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak lahir dari slogan, melainkan dari generasi yang siap bekerja. Santri memiliki bekal yang lengkap: ilmu, karakter, tradisi, dan keberanian berinovasi. Tugas kita bersama, pemerintah, pesantren, keluarga, dan masyarakat, adalah memastikan bekal itu terus diasah dan diberi ruang untuk tumbuh. Dengan begitu, santri benar-benar menguatkan negeri.






