RISET terbaru Arawicaksa Institute merilis pemetaan persepsi publik terhadap kinerja jajaran menteri Kabinet Merah Putih menjelang du
Peneliti Senior Arawicaksa Institute, Rudi Hartono, mengungkapkan bahwa penilaian publik terbelah antara apresiasi terhadap terobosan program prioritas dengan sorotan tajam atas berbagai polemik, kelangkaan energi, hingga kasus hukum yang melilit kementerian tertentu.
“Publik menyoroti kinerja sejumlah menteri dengan gebrakan dan terobosan yang membantu terjaganya citra pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun evaluasi terhadap kinerja dan penilaian para pembantunya di jajaran Kabinet Merah Putih diharapkan berlangsung secara objektif, demi keberhasilan program-program ke depan dengan tetap memperhitungkan dukungan kekuatan-kekuatan politik yang ada,” ujar Rudi melalui keterangannya, Selasa (13/10/2026).
Dalam daftar 10 menteri terbaik, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menempati peringkat teratas dengan skor 8,1 dari skala 10 berkat keberhasilan mengeksekusi program revitalisasi 16.617 gedung sekolah pada 2025 yang diperluas hingga 71.744 sekolah pada 2026 di daerah 3T, serta perbaikan skor PISA literasi sains dan membaca.
Posisi kedua ditempati Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan skor 8,0 atas capaian swasembada beras nasional, di mana produksi beras 2025 mencapai 34,69 juta ton atau naik 13,29 persen secara tahunan. Jajaran menteri terbaik lainnya secara berurutan diisi oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dengan skor 7,8, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dengan skor 7,5, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono dengan skor 7,4, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dengan skor 7,1, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan skor 6,8, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dengan skor 6,7, Menteri Luar Negeri Armanatha Nasir dengan skor 6,5, serta Menteri Pertahanan Sjaffrie Sjamsoeddin dengan skor 6,4.
“Prasetyo Hadi tampil prima dalam mengkomunikasikan sikap dan kebijakan pemerintah, termasuk dalam menegur para menteri yang dinilai kontroversial di mata publik. Peran yang lebih agresif juga ditunjukkan oleh Seskab Teddy dalam menjelaskan berbagai sorotan publik,” tambah Rudi.
Sementara itu pada jajaran penilaian terburuk, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menempati peringkat paling bawah dengan skor 1,2 akibat migrasi konsumen yang memicu antrean panjang di berbagai SPBU pasca-kenaikan harga BBM non-subsidi.
Posisi terburuk berikutnya diisi oleh Menteri Desa Yandri Susanto dengan skor 1,3 akibat polemik program Koperasi Desa, Menteri HAM Natalius Pigai dengan skor 1,5, Menteri Perumahan Maruarar Sirait dengan skor 1,6, serta Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid dengan skor 1,8 akibat guncangan skandal suap pertanahan serta namanya yang terseret dalam persidangan kasus dugaan korupsi kuota haji.
Deretan menteri terburuk lainnya mencakup Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dengan skor 2,0, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dengan skor 2,1, Menteri PAN-RB Rini Widyantini dengan skor 2,2, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dengan skor 2,2, dan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dengan skor 2,3.
Survei Arawicaksa Institute ini dilaksanakan pada 3–8 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia melalui metode multistage random sampling dan wawancara tatap muka, dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error ±2,89 persen.
Sumber ; mediaindonesia






