Pesantren Bukan Tempat Buangan Anak Bermasalah

Anak bukan barang rusak yang bisa dikirim ke bengkel. Anak adalah manusia yang perlu didekati dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan pemahaman yang benar.

Sejak lama, ada satu pola yang cukup sering terjadi. Ketika anak dianggap bermasalah di rumah, sebagian orang tua segera berpikir untuk memasukkannya ke pesantren.

Anak sulit diatur, kirim ke pesantren. Anak mulai melawan, kirim ke pesantren. Anak kecanduan gawai, kirim ke pesantren. Anak terlibat perilaku berisiko, kirim ke pesantren. Anak membuat orang tua kewalahan, kirim ke pesantren.

Seolah-olah pesantren adalah tempat terakhir untuk “membereskan” anak.

Padahal pesantren bukan tempat buangan. Pesantren bukan bengkel. Pesantren bukan tempat orang tua menyerahkan masalah yang tidak sanggup lagi mereka hadapi di rumah.

Pesantren adalah lembaga pendidikan. Ia punya tugas mulia, tetapi bukan berarti semua masalah anak bisa diselesaikan hanya dengan memasukkannya ke asrama.

A. Pesantren bukan pengganti psikolog, psikiater, atau konselor

Ada anak yang membutuhkan bimbingan agama. Ada anak yang membutuhkan lingkungan belajar yang lebih terstruktur. Ada anak yang cocok tumbuh dalam suasana pesantren. Ini semua benar.

Namun ada juga anak yang membawa luka pengasuhan, trauma, gangguan emosi, masalah perilaku serius, depresi, kecemasan, adiksi, atau konflik batin yang tidak sederhana. Untuk kondisi seperti ini, anak tidak cukup hanya dipindahkan ke pesantren.

Ia perlu dibantu oleh orang yang memang disiapkan untuk menangani masalah psikologis dan kejiwaan. Ia mungkin membutuhkan psikolog, psikiater, konselor, atau pendamping profesional yang memahami kondisi anak secara lebih utuh.

Membawa anak yang sedang terluka ke pesantren tanpa memahami akar masalahnya bisa membuat masalah hanya berpindah tempat. Dari rumah ke asrama. Dari orang tua ke guru. Dari keluarga ke lembaga.

Masalahnya tidak otomatis selesai. Kadang justru menjadi lebih rumit.

B. Anak yang bermasalah tidak boleh sekadar dipindahkan

Ketika anak menunjukkan perilaku yang sulit, orang tua sering fokus pada perilaku luarnya. Anak membantah. Anak malas. Anak tidak disiplin. Anak sulit diajak bicara. Anak mulai berbohong. Anak melanggar aturan.

Namun perilaku sering kali hanya gejala. Di balik perilaku, bisa ada luka yang tidak terlihat. Bisa ada rasa tidak aman. Bisa ada relasi yang rusak. Bisa ada kebutuhan emosi yang tidak terpenuhi. Bisa ada masalah kesehatan mental yang belum dikenali.

Jika anak hanya dipindahkan ke pesantren tanpa proses memahami apa yang terjadi, maka orang tua sebenarnya tidak sedang menyelesaikan masalah. Mereka hanya memindahkan beban.

Anak tidak membutuhkan tempat baru semata. Anak membutuhkan pemahaman, pendampingan, dan pemulihan.

C. Guru pesantren tidak selalu disiapkan untuk menangani masalah psikologis berat

Guru di pesantren memiliki peran yang sangat penting. Mereka mendidik, membimbing, mengajar, mengasuh, dan sering kali menjadi figur pengganti orang tua bagi santri. Peran ini besar dan mulia.

Namun tidak adil jika semua masalah anak dibebankan kepada mereka.

Guru pesantren tidak selalu disiapkan untuk menangani anak dengan trauma berat, adiksi, gangguan perilaku serius, atau masalah kejiwaan tertentu. Jika terlalu banyak anak bermasalah dikirim ke pesantren tanpa asesmen dan pendampingan yang tepat, pesantren akhirnya sibuk memadamkan krisis.

Yang terjadi, energi lembaga habis untuk mengurus masalah yang seharusnya ditangani bersama oleh keluarga dan profesional.

Ini tidak sehat bagi anak, tidak sehat bagi guru, dan tidak sehat bagi pesantren itu sendiri.

D. Orang tua tetap tidak boleh lepas tangan

Memasukkan anak ke pesantren tidak boleh menjadi cara orang tua untuk lepas tangan. Anak tetap membutuhkan ayah dan ibunya. Anak tetap membutuhkan relasi dengan rumah. Anak tetap perlu merasa bahwa ia tidak dibuang hanya karena dianggap sulit.

Sebagian anak bisa menangkap pesan yang menyakitkan ketika ia dikirim ke pesantren dalam kondisi bermasalah: “Aku disingkirkan karena orang tuaku sudah tidak sanggup menghadapiku.”

Jika pesan seperti ini tertanam, pesantren tidak lagi terasa sebagai tempat belajar. Ia bisa terasa seperti hukuman.

Karena itu, sebelum memutuskan memasukkan anak ke pesantren, orang tua perlu jujur bertanya: apakah ini benar-benar kebutuhan pendidikan anak, atau hanya karena orang tua kewalahan dan ingin masalahnya menjauh dari rumah?

Pertanyaan ini mungkin pahit, tetapi perlu.

E. Pesantren perlu dihormati sebagai lembaga pendidikan

Menghormati pesantren berarti tidak menjadikannya tempat pembuangan anak yang sedang bermasalah. Menghormati pesantren berarti memahami fungsi dan batasnya. Menghormati pesantren berarti tidak membebani guru dengan masalah yang sebenarnya membutuhkan penanganan khusus.

Jika anak memang cocok masuk pesantren, siapkan dengan baik. Bangun niat yang sehat. Jelaskan kepada anak dengan penuh hormat. Libatkan ia dalam percakapan. Pastikan pesantren memahami kondisi anak. Jika ada luka atau masalah psikologis, dampingi dengan bantuan profesional.

Pesantren bisa menjadi bagian dari ekosistem pendidikan dan pemulihan. Tetapi pesantren tidak boleh dipaksa menjadi satu-satunya jawaban atas semua masalah anak.

Anak yang sedang bermasalah tidak cukup hanya dikirim ke tempat yang dianggap lebih disiplin. Ia perlu dipahami. Ia perlu dibantu. Ia perlu dipulihkan. Ia perlu didampingi oleh orang tua, guru, dan jika diperlukan, tenaga profesional.

Pesantren adalah tempat pendidikan yang mulia. Namun kemuliaan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menjadikannya tempat buangan bagi anak-anak yang belum selesai lukanya.

Karena anak bukan barang rusak yang bisa dikirim ke bengkel. Anak adalah manusia yang perlu didekati dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan pemahaman yang benar.

«Pesantren bukan tempat buangan anak bermasalah. Ia adalah lembaga pendidikan yang perlu dihormati, sementara luka anak tetap harus dipahami dan dipulihkan dengan cara yang tepat.

Sumber :  Lingkar Ayah Indonesia»

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *